Inspirational Stories
Tips Berkomunikasi dengan anak
25 June 2014
insp4
Keluarga Indonesia, banyak keluarga bisa menyayangi anak-anak mereka, tetapi tidak banyak keluarga-keluarga mampu berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak mereka. Mereka lebih senang bicara daripada mendengar, lebih senang memerintah daripada mengajarkan. Komunikasi menjadi masalah utama dalam sebuah keluarga, komunikasi menjadi masalah pelik antara orangtua dan anak.
 
Banyak orangtua tidak mengerti mengapa anak-anak mereka merengek, mengamuk dan memberontak? Padahal mereka jarang diajarkan menyampaikan apa yang ada di pikiran mereka sejak dini. Ingat, anak-anak adalah spons, mereka dapat belajar dari kehidupan orangtuanya, mereka menyerap setiap kata yang keluar dari mulut kita, mereka meniru bahasa tubuh orangtuanya. Jadi kalau orangtua sedikit sekali mengajarkan bagaimana menyampaikan perasaannya maka mereka akan kesulitan dalam mengungkapkannya, maka rengekan, amukan adalah jalan tercepat mengungkapkan perasaan kesal mereka dan mendapat respon segera dari orangtuanya.
 
Sekarang mari kita bahas teknik dasar untuk membuat anak merasa nyaman untuk berbicara dengan orangtua dengan bebas dan jujur.
Ikuti langkah-langkah berikut dan kita akan mendapati anak-anak kita akan meresponi dengan baik setiap perkataan kita, gunakan juga tips ini ketika menghadapi anak-anak yang sedang kesal.
  • Turunkan tubuh kita setinggi anak; Duduk atau berlututlah ketika berbicara sehingga setinggi anak, pilihlah yang nyaman buat kita ketika berbicara dengan mereka.
  • Tatap matanya; hal ini penting sekali untuk menatap mata anak ketika berbicara dengannya, jika perlu palingkan kepala anak supaya dapat memandang langsung kepada mata kita. 
  • Menghadapi anak yang sedang marah; usap punggungnya dengan usapan kasih sayang atau peluklah dengan lembut. Hentikan pelukan kita terlebih dahulu ketika ingin berbicara, supaya posisi kita harus cukup baik untuk melihat wajahnya,. Kalau dia sedang sangat marah sekali atau histeris, jangan bicara terlebih dahulu sebelum meredakan amarahnya. Untuk menenangkannya,  ajar dia menarik nafas dalam-dalam. Setelah amarahnya reda, baru mulailah bicaralah dengan suara lembut dan tenang.
  • Ubah nada suara; ketika ingin menyampaikan sebuah aturan bicaralah dengan lembut tapi tegas, jangan berteriak. Kita perlu berlatih untuk hal ini, karena biasanya intonasi kita sangat terpengaruh dengan perasaan kita, sedang marah, senang atau gembira.
  • Beri masukan kata-kata; untuk membantu anak-anak mampu mengeluarkan isi hatinya, mereka membutuhkan perbendaharaan kata yang cukup. Untuk itu beri dan ajarkan kata-kata padanya, misalnya: ketika anak kita cemberut dan berdiam diri katakan; ”kamu kelihatannya sedang kesal ya,“ atau dengan berkata:  ”coba kasih tahu mama apa yang membuatmu kesal?“ 
  • Ulangi kata-kata anak kita; hal ini untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan apa yang disampaikan anak-anak, juga dapat digunakan untuk kesempatan berpikir ulang apa yang harus dijawab oleh orangtua atas pertanyaan yang diberikan.
  • Jangan menyela; Biarkan anak-anak menyampaikan apa yang dipikirkannya secara tuntas, dengarkan sepenuh hati, lalu kalau sudah selesai katakan bahwa kita mengerti, ketika giliran orangtua berbicara anak-anak akan melakukan hal yang sama karena belajar dari sikap orangtuanya. Kalau ada anak yang menyela katakan: ”ayah mengerti, tetapi ijinkan ayah menyelesaikan terlebih dahulu apa yang ayah maksud, setelah itu baru kamu bicara yaa..“
  • Tetap tenang; betapapun bergejolaknya hati kita, sebesar apapun emosi kita tetaplah bersikap  tenang. Lakukanlah juga time-out bagi orangtua apabila memang kita pikir kita perlu menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan dengan anak-anak.
 

Leave a reply